LORONG WAKTU
Suatu hari aku mendengar seorang bocah laki-laki berkeluh kesah pada bapaknya. "Wahai bapakku tercinta, ajaklah aku ke ujung barat sana. Antarkan aku ke tempat dimana di sana terdapat langit yang menyentuh bumiku. Aku tak mau membiarkan matahari terbenam di sembarang tempat. Biarkan dia selalu menyinari langit desa kita."
"Bapakku tercinta, kenapa harus ada kegelapan sedangkan terang tak membuat kita berjalan dalam keraguan, aku takut dengan kegelapan. Apakah kita tidak sebaiknya menggantung matahari dengan sebuah pengikat dari kawat, agar dia tidak bisa lagi beranjak dari sini? Wahai bapak, marilah kita pergi ke sana agar aku bisa selamatkan dunia. Matahari tak seharusnya disembunyikan di bawah bumi. Wahai bapak, tolonglah aku.. Kabulkan harapanku. Siapa lagi yang bisa mengerti keluh kesahku selain dirimu. Tolonglah aku..."
Dialog itu terdengar sangat jelas di telingaku, namun tiba-tiba wujud mereka membias-membias-terus membias. Dan aku kehilangan penglihatanku terhadap mereka..
Aku mencoba menerka siapa mereka?
Mungkin mereka hanyalah asap yang muncul dari dalam kegelapan. Dua gumpalan asap yang merasa takut pada GELAP YANG TAK BISA MEMUNCULKAN WUJUDnya.
Akupun membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja tanpa tahu apa makna yang terkandung dari maksud hadirnya. Mungkin suatu saat kata-kata mereka bisa memberiku sebuah inspirasi untuk menulis sesuatu. Maka aku melukiskan percakapan mereka dan menyimpannya dibawah bantal.
Beberapa hari setelah hari itu aku kembali melihat sesuatu. Aku melihat banyak orang berkumpul di sebuah tanah lapang. Mereka adalah para remaja yang dadanya bergolak-golak, para manusia setengah baya yang memakai aneka kaca mata, juga para orang tua yang sudah bau tanah dengan nafas yang sudah sangat tersengal karena lelah menghirup pengapnya dunia.
Mereka rupanya sedang asik dalam sebuah perbincangan. Sepertinya sudah berlangsung cukup panjang, namun belum ada satupun yang merasa "TENANG".
"Kawan...! Dunia ini hanyalah sebuah permainan. Tiap kita harus bisa bermain dengan baik. Siapapun yang tidak bisa bermain berarti dia adalah PECUNDANG."
Begitu yakinnya anak muda itu dengan kata-kata yang ia ucapkan. Semangatnya membakar rumput-rumput liar sepertiku, bahkan gema yang keluar dari dadanya ternyata mampu membakar langit. Langit yang sejak tadi gelap mendadak merona merah. Akupun bisa melihat senyum-senyum kagum itu tertoreh indah. "Anak muda, ternyata suaramu sungguh sangat dahsyat". Begitulah bisik hatiku mempengaruhi diri sendiri.
"Kenapa kita tidak memaknai hidup sebagai perjuangan?"
Tiba-tiba sosok pemuda yang berbeda merangsek dalam kerumunan tanda tanya.
"Apakah dari sebuah arena permainan ini kita bisa diagung-agungkan. Ingatkah kalian bahwa Tuhan telah mengagungkan kita. Tuhan telah menyuruh Iblis utk bersujud kepada manusia. Ini bukan permainan kawan...! Ini bukan permainan."
Kata-kata itu terdengar lebih berkuasa dari seorang raja. Dia membawa kita pada sejarah penciptaan manusia.
"Permainan tidak menghasilkan apa-apa. Sedangkan kita adalah mahluk yang penciptaanya dikabarkan pada seisi semesta. Tuhan sangat bangga dengan kita."
"Hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk selalu naik tangga, naik kelas, dan naik ke tempat yang tlah di sediakan untuk kita. Kita diciptakan dengan akal dan nafsu. Akal membimbing kita untuk mencari tangga sedangkan nafsu adalah grafitasi berat yang semakin kuat dalam tiap jenjang tangga. Kita harus berjuang untuk bisa naik dan menunjukkan pada iblis bahwa kita memang layak dia hormati. Kita harus berjuang kawan...! Kita harus berjuang. Berjuang agar layak mendapatkan penghormatan."
Sungguh sangat menakjubkan. Kata-kata yang penuh keistimewaan telah membuat pemuda itu dikaruniai kemenangan tanpa ada paksaan. Semua mata terbelalak hanya karena mendengar rangkaian kata dari seorang pemuda. Bahkan dada-dada orang setengah baya menjadi bergolak lagi. Dan lapangan terbuka itu dikuasai oleh semangat jihad orang muda. Semuanya menjadi pemuda. Dan aku merasuk dalam dada-dada mereka. Menyatu dengan semangat mereka. Marilah kita pekikkan semangat perjuangan kita..!
"Kalau kita memaknai hidup dengan perjuangan maka hidup ini terdengar sangat melelahkan"
Kata-kata itu terdengar begitu tenang. Mengayuh tanpa tenaga berlebihan lalu mengheningkan pekikan dan keributan.
"Perjuangan tak luput dari pengorbanan. Kalau kita hidup untuk berjuang, maka kita hanya hidup untuk berkorban. Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang. Tuhan tak menghendaki kita berada dalam kepayahan sepanjang zaman.
"Hidup ini sebenarnya adalah Hadiah dari Tuhan. Hadiah yang patut kita syukuri, kita nikmati dan kita gunakan sebaik-baiknya. Tubuh kita bukan milik kita, tapi kita tidak sadar. Mata kita bukan milik kita, tapi kita tidak mau sadar. Hati kita bukan milik kita, tapi kita ternyata terbiasa ingkar. Semua yang ada hanyalah hadiah yang di persembahkan oleh Dia yang Maha Penyayang-Maha memberi. Siapapun yang merasa mendapat hadiah, maka dia patut berterima kasih. Bersyukurlah... Karena kita sangat dikasihi oleh pemilik semesta...!
Hening..
Tak ada lagi yang berkata-kata setelah laki-laki berumur 50 tahunan itu bersuara. Seluruh fikiran kami diseduh dalam cawan Cinta Kasih. Melebur dalam Cinta dan menuangkan semua rasa kasih yang tersedia dalam dada. Hidup ini harus penuh Cinta... Takkan ada lagi air mata, karena semua yang berjiwa akan menuangkan Kasihnya pada sesama, juga pada seisi semesta. Atas nama syukur pada Sang Pemilik Rasa...
"Tunggu dulu, hadiah yang sebenarnya bukanlah ini. Dunia ini sangat sementara. Tuhan yang Maha Pengasih telah menyiapkan Hadiah yang paling Istimewa di sana. Ketika keabadian dinyatakan dalam lautan kenikmatan. Hadiah yang sesungguhnya terdapat di alam sana; setelah kehidupan ini."
"Sadarlah kalian semua, bahwa segala yang ada di dunia ini: baik yang berupa kesenangan maupun kesedihan, semuanya hanyalah ujian. Sebagai Mahluk yang diberikan amanah untuk menjadi KHALIFAH Tuhan; kita memang layak diuji. Diuji untuk mencicipi segala tipu daya diri. Diuji utk melakoni Takdir. Diuji utk mendapatkan kesempurnaan yang sesungguhnya."
Saat itulah tiba-tiba seorang kakek tua datang. Seorang kakek yang jalannya sudah sangat tertatih. Kulit tubuhnya terlihat sangat letih. Matanya hampir pucat memutih. Dan dia berjalan ke tengah lapangan sambil merintih.
Kakek tua bangka yang punggungnya sudah menghadap ke langit. Berkaca pada rembulan dan meneliti awan. Bintang-bintang berdempetan memayungi sang kakek yang berusaha ke tengah lapangan. Menuju sebuah tempat dimana setiap mata mampu melihatnya. Aku ngilu melihat cara jalannya.. Ia berkata:
"Sudahlah... Kenapa kalian membahas sesuatu yang kalian tidak mengerti. Andai kalian benar-benar mengerti tentang arti hidup, maka kalian akan menjalankan apapun yang kalian mengerti. Tak ada gunanya berunding dengan kebingungan. Lebih baik kalian manfaatkan sisa waktu yang ada untuk menjalankan apapun yang kalian mengerti. Dunia adalah dunia, akhirat adalah nyata. Sekarang kita ada di dunia, akhirat juga semakin tidak bisa dibantah oleh fikiran kita. Apapun dan bagaimanapun kita hanyalah Makhluk yang selalu tunduk pada hukum sebab akibat, namun Tuhan Maha bijaksana dalam segala hal...
(my fb: 20 desember 2009)

10.41
BANYU SEGARA PANTURA
, Posted in





0 Response to "LORONG WAKTU"
Posting Komentar