PERBINCANGAN DARI ALAM SANA

Disuatu kampung dalam dunia hayalku. Kulihat dua orang bercakap-cakap di sebuah ruangan. Aku tak tahu dimana tempat itu, tapi mereka berdua adalah seorang sahabat lama. Mereka biasa bercanda berbagi rasa. Minum kopi bersama, juga mencari kayu bakar untuk menjaga kehangatan mata mereka.

X_*: Lama kita tidak berjumpa kawan, kemana saja kamu selama ini?
Y_*: Sebenarnya aku tidak pernah ke mana-mana, aku malah mencarimu ke mana-mana
X_*: Aku tidak mengerti kawan
Y_*: Aku sedang mencari apa yang kamu cari, aku mencari tanah kehidupan
X_*: Bukankah ini tanah kehidupan?
Y_*: Betul kawan
X_*: Lalu?
Y_*: Kadang kehidupan tidak lebih berharga dari sepenggal waktu
X_*: Apa yang kamu maksud dengan sepenggal waktu
Y_*: Kebahagiaan yang ternyata tak berlangsung lama
X_*: Rupanya kamu masih memikirkan masa lalumu
Y_*: Masa lalu tlah menjadi kenangan, dan esok tak lebih dari sebuah impian. Tak ada yang lebih berharga dari keduanya..
X_*: Jadi apa yang kamu maksud dengan sepenggal waktu?
Y_*: Hidup hanyalah sekarang kawan, mengertilah kau akan hal itu
X_*: Ya, aku juga sependapat dengan kamu
Y_*: Sependapat bukan berarti kita sepakat
X_*: Aku tidak mengerti..
Y_*: Tuhan menciptakan kita bukan hanya untuk mengerti
X_*: Apa maksudmu?
Y_*: Aku mengerti matematik tapi tak mungkin bisa menghitung dosa..
X_*: Betul.. Tapi aku masih tidak tahu ke mana arah pembicaraanmu
Y_*: Beruntunglah orang-orang yang memilih hidup ketika kehidupan memang memilihnya
X_*: Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang sedang kau fikirkan?
Y_*: Kebahagiaan Dunia tlah melalaikan banyak manusia akan kehidupan Akhirat. Kebahagiaan akhirat juga telah melalaikan manusia dari kehidupan dunia
X_*: Bukankah memang Akhirat itu lebih baik?
Y_*: Akhirat menjadi lebih baik ketika kita berhasil menyelesaikan amanat di dunia
X_*: Amanat apa?
Y_*: KHALIFAH alam semesta
X_*: Jadi apa yang kamu pilih, Dunia atau Akhirat?
Y_*: Warna akan sia-sia tanpa ada cahaya, tapi mata kitalah yang menentukan keduanya.
X_*: Apa hubungannya?
Y_*: Barang siapa menemukan cahaya dengan benar menggunakan kedua matanya maka semua warna akan menjadi miliknya
X_*: Lalu bagaimana nasib orang-orang yang berpaling?
Y_*: Tanpa cahaya siapapun tak bisa melihat warna, tapi sebenarnya kita tidak mungkin bisa melihat cahaya
X_*: Apa maksudmu?
Y_*: Apa yang kamu lihat ketika lampu senter di arahkan ke matamu?
X_*: Bagaimana aku memaknainya?
Y_*: Jaga matamu saat melihat, lihat warnanya, lalu sampaikan, karena kbenaran bukan sesuatu yang tak terlihat..
X_*: Bagaimana dengan warna yang berada di antara gelap dan terang? Bukankah ini sering membingungkan?
Y_*: Sesuatu yang terlalu terang juga tidak nyaman bagi mata kita, bisa saja kita buta karenanya, tapi bukankah kita bisa menghindar dari kduanya?
X_*: Bagaimana kalau kita tidak bisa menghindar?
Y_*: Pencari kebenaran bukanlah orang-orang yang benar, mereka hanya sadar bahwa kegelapan menimbulkan banyak malapetaka bg langkahnya
X_*: Bagaimana kalau kita tidak bisa mhindar?
Y_*: Kerinduan akan kebenaran akan membuat kita mencari & terus mencari. Kebenaran akan menemukan jalannya sndiri
X_*: Apakah semua cahaya adalah petunjuk kebenaran?
Y_*: Secara umum, mata akan mampu melihat dengan cahaya, tapi sesungguhnya cahaya punya hukum pembiasan, seperti hadirnya pelangi yang menghiasi langit sehabis hujan... Bahkan cahaya tak mau menyampaikan bahwa sebuah tongkat adalah lurus saat separuh dari tongkat ada dalam air yang menerima cahaya.
X_*: Aku masih bingung
Y_*: Cukuplah bagi manusia untuk mengetahui bahwa cahaya adalah petunjuk. Maha suci Allah yang telah menjadikan hati sebagai sesuatu yang tak tersentuh mata, sebagaimana wangi yang tak mungkin tercium telinga. Dan cahaya sebenarnya hanyalah yang hadir dalam hati kalian...


(my fb: 29 desember 2009)



Artikel Terkait:

0 Response to "PERBINCANGAN DARI ALAM SANA"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme