LAMPU MERAH KOTA CIREBON
Nenek tua renta di simpang kota
Berjalan menelusuri panas aspal jalan raya
Berbekal lapar dia tumbalkan usianya
Menengadahkan tangan untuk sesuap saja
Di antara bising jalan raya dia merintih
Tulang belikatnya sudah menindih
Dipikat karbon bagai letupan buih
Sesak dadanya menanggung perih
Malam menjelma tinggalkan panorama senja
Bulan sabit menampakkan diri di tengah kota
Nenek tua renta masih di simpang raya
Menghitung cerobong asap di depan hidungnya
Tersengal menghirup sesaknya usia
Sanak saudara entah di mana
Hujan mengguyur menggenangi rintik air mata
Berbekal payung dan harapan di dada
Diusirlah dingin dari hujaman tulang rusuknya
Hingga hening tiba-tiba merampas jiwanya
Seketika kota cirebon diselimuti sunyi
Ujung penantian tak jua dijejaki
Entah di mana sesuap nasi
Nenek tua renta terhuyung menuju sebuah tiang patok besi
Disantapnya malam dengan sangat lahap
Dingin meluap masih bisa dia kudap
Langit gelap menyuguhkan pesona sedap
Berhias gemerlap dan sisa cahaya yang belum tuntas terhisap
Melayang jauh di teras waktu subuh
Sejenak berteduh merapihkan gaduh
Jasad renta itu harusnya bersimpuh
Namun..
Bintang kejorapun hanya melihatnya dengan acuh
Tertunduk lesu menggeser bisu
Kudekatkan telinga hatiku
Di mana bumi tempatku?
Bisik lirih itu mengoyak nuraniku
Setua itu
Setua itu dia berselisih dengan waktu
Dikejar lapar lari di depan mukaku
Untuk sesuap yang ia tunggu
Nenek tua renta di simpang kota
Di sudut lampu merah dia berdoa
Semoga sang Pecinta melimpahkan Rahmatnya
Untuk para pengguna jalan raya yang tahu makna perut laparnya

02.05
BANYU SEGARA PANTURA
, Posted in





0 Response to "LAMPU MERAH KOTA CIREBON"
Posting Komentar