WAHAI KAU ANAKCUCU NENEKMOYANGKU

Hiruk pikuk manusia bergerak menuju masa
Berputarputar mengelilingi setumpuk assa
Layaknya semutsemut pekerja
Berjoget dalam pesta gulagula

Kerajaan semesta disesaki perutperut lapar
Tubuh mereka bergetar penuh nafsu liar
Ke sana ke mari mereka mencakar
Merobek segala aturan demi mendapatkan tubuh kekar

RajaRaja kecil bermunculan bermain rumahrumahan
Mengatur keadilan bermodal sepetak alam fikiran
Kadang bertindak layaknya Tuhan
Kadang juga menjadi pahlawan kesiangan
Hanya retorika yang dia butuhkan
Merubah tatanan mengotori nasib lewat arus keinginan

Berjubel orangorangan memadati kampung permainan
Menunggu disentuh tangan kekuasaan
Bocah ingusan tersenyum penuh kesenangan
Terbahakbahak dalam arena yang ia pentaskan

Simiskin dirantai diterlantarkan untuk dibantai
Diperciklah darah agar permainan semakin meriah
Beberapa nyawa ditumbalkan untuk sekedar tertawa
Dicecerkan air mata di lesunglesung penuh derita
Tulangtulang penyangga digergaji
Lumpuhlah dia tanpa ada nasi yang sudi mengisi
Anak ingusan itu mengerti ke mana alur harus didaki
Seperti itulah takdir penduduk bumi
Jiwajiwa manusia masih juga mengekor sesuap nasi

Sikaya didakwa sebagai penggerak roda
Diberi mandat menuangkan sperma ke manamana
Benih keserakahan semakin merajalela
Para pemuja berhala bermunculan sepenjuruh dunia
Dunia raja kecil yang sibuk bermain drama

Diciptakanlah penguasapenguasa bergigi taring
Si jaksa digiring dalam lukisan timbangan miring
Hakimhakim diserupakan bermata juling
Lendirlendir berceceran dalam hidangan rupiah di setiap piring
Dalam kemesraan hidup mereka bersanding
Saling menyuap saling ber aling
Berguling-guling dalam rahasia yang terlanjur bising

Tahta kabupaten diturunkan pada sanak famili
Darah biru kembali dilestarikan di alam demokrasi
Tak ada yang berhak mengisi istana para pribumi
Merekalah penduduk asli ketika lingkaran setan tak mampu ditutupi
Penduduk asli dari kerajaan yang telah ditempati

Negara demokrasi dikebiri aliran nasi dari sanasini
Suara yang terdengar hanyalah perut yang tak ter isi
Dijuallah negara ini demi menghalau lapar yang menyakiti
Hari demi hari penguasa berkoar demi luka yang katanya hendak diobati
Namun nyatanya apa yang terjadi?
Miris hati ini mendengar negaraku disetubuhi nafsunafsu serakah tanpa henti

Aku ingin menjewer anak kecil yang lancang itu
Dalam sebuah permainan rumahrumahan yang dipentaskan di depan mukaku, aku malu
Kenapa ia mengatur para lakon tanpa menyeduh nuraniku
Mungkinkah alam idealisku memang hanya ada dalam imajinasi waktu?
Aku tak tahu
Tapi kenyataan inilah yang terus membuatku pilu
Kapan kau sejahtera wahai anakcucu nenekmoyangku?

Indonesia raya
Indonesia raya
Indonesia raya
Berikan hatimu berikan cintamu
Tunaikan keadilanmu
Untuk semua anakcucu nenekmoyangmu



Artikel Terkait:

0 Response to "WAHAI KAU ANAKCUCU NENEKMOYANGKU"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme