MENGEJA BUTIRAN AIR MATA
Waktu teramat cepat berjalan
Aku ditinggalkan terlalu jauh
Dalam kesendirian dipeluk kehampaan
Aku terserak tanpa tersentuh
Dalam rinai hujan aku ditemukan
Bermandikan air mata tanpa keramahan
Diguyur perih disiram air hujan
Aku bersimpuh, menatap wajah dalam kejauhan
Liku laku hidup menuju tamasya jiwa
Di remang rasa ku-memipih dihimpit cahaya
Menajam dalam segaris kata
Menciut ditelan malam gulita
Keberadaanku tak lagi ditemukan
Serupa api yang bersembunyi dalam batu
Serupa angin yang menampakkan wujudnya dalam rasa
Juga serupa cahaya yang bergetar di antara untaian nada
Aku kehilanganmu
Aku tak menemukanmu
Dalam tiap jejak waktu juga isi tempurung kepalaku
Namun kau masih saja menghinggapi sunyiku
Dan ketika malam menawarkan keakraban heningmu
Purnama sendu mengajak gemintang berlagu
Dalam kerlip syahdu mereka menghiburku
Menyeka segenap noda cintaku padamu
Kulihat mataku berkaca membendung hadirmu
Membendung rasa itu
Karena wajahmu menghujam teramat pilu
Melukaiku dengan kuasamu padaku
Malampun teramat dalam
Menunggui fajar dan cahayanya
Merenungi gelap dan sajiannya
Tenggelamkan segala sadar yang masih menggelepar, mengeja air mata
Jauh
Di sudut jauh aku meng aduh
Sunyi hatiku makin melepuh
Tak mampu kuhentikan irama dadaku yang makin bergemuruh
Duhai pemilik jiwa
Kau lah yang menaruh segala rasa
Jangan biarkan aku tersiksa
Hapuslah dia
Hapuslah wajahnya
Redamkan pesonanya
Demi masa

19.48
BANYU SEGARA PANTURA
, Posted in





0 Response to "MENGEJA BUTIRAN AIR MATA"
Posting Komentar