MENGEJA BUTIRAN AIR MATA

Waktu teramat cepat berjalan
Aku ditinggalkan terlalu jauh
Dalam kesendirian dipeluk kehampaan
Aku terserak tanpa tersentuh

Dalam rinai hujan aku ditemukan
Bermandikan air mata tanpa keramahan
Diguyur perih disiram air hujan
Aku bersimpuh, menatap wajah dalam kejauhan

Liku laku hidup menuju tamasya jiwa
Di remang rasa ku-memipih dihimpit cahaya
Menajam dalam segaris kata
Menciut ditelan malam gulita

Keberadaanku tak lagi ditemukan
Serupa api yang bersembunyi dalam batu
Serupa angin yang menampakkan wujudnya dalam rasa
Juga serupa cahaya yang bergetar di antara untaian nada

Aku kehilanganmu
Aku tak menemukanmu
Dalam tiap jejak waktu juga isi tempurung kepalaku
Namun kau masih saja menghinggapi sunyiku

Dan ketika malam menawarkan keakraban heningmu
Purnama sendu mengajak gemintang berlagu
Dalam kerlip syahdu mereka menghiburku
Menyeka segenap noda cintaku padamu

Kulihat mataku berkaca membendung hadirmu
Membendung rasa itu
Karena wajahmu menghujam teramat pilu
Melukaiku dengan kuasamu padaku

Malampun teramat dalam
Menunggui fajar dan cahayanya
Merenungi gelap dan sajiannya
Tenggelamkan segala sadar yang masih menggelepar, mengeja air mata

Jauh
Di sudut jauh aku meng aduh
Sunyi hatiku makin melepuh
Tak mampu kuhentikan irama dadaku yang makin bergemuruh

Duhai pemilik jiwa
Kau lah yang menaruh segala rasa
Jangan biarkan aku tersiksa
Hapuslah dia
Hapuslah wajahnya
Redamkan pesonanya
Demi masa






Artikel Terkait:

0 Response to "MENGEJA BUTIRAN AIR MATA"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme