EDISI HUJAN

Waktu telah berjarak sepenggalan dari rahim senja
Langit masih berpesta dengan percikan lembut nan segar
Aku tergopoh menyusuri kelok demi kelok
Digoda punggung bukit tebing dan mata air jernih
Namun geliat fikiranku sudah menuju tempat lain
Mencari secangkir kopi dan kehangatan serupa lainnya

Dingin telah begitu kuat menyergap pori-pori kuningan
Aku terhenti separuh jalan untuk memungut api
Membakar lamunan demi kehangatan pribadi
Ditemani secangkir kopi susu hangat aku bersemedi
Memutar waktu menunda hening dari terpaan sepi

Hampir reda ketika kualirkan kata menuju senja
Sisa-sisa hangat masih kusimpan didada
Kuserap cahaya dari redup yang semakin nyata
Lengang jalan raya kusibak dengan tergesa
Menembus kabut menuju dinding cakrawala

Rindang pepohonan ditelungkupi malam
Kabut putih ditebar di lereng dan lembah
Serangga malam merafalkan pujian pada gelap
Suara-suara langit menggema dari bentuk segala
Akupun bersujud dalam tunduk dan pinta

Hawa dingin menyebar membungkus gubuk demi gubuk
Ranting daun dan semak telah terlelap
Hijaunya kuningan kini disembunyikan oleh cahaya
Kurebahkan tubuh lelapku di tikar assa
Agar selimut mampu memberiku kehangatan dari sebait sapa

Datanglah wahai cinta
Datanglah..
Aku menunggumu untuk bersama mencipta nada
Mengukir malam mencetak jiwa
Demi letupan nafas yang masih tersisa



Artikel Terkait:

0 Response to "EDISI HUJAN"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme