TRAGEDI ALAM LIAR

Setangkai mawar merah tergeletak di samping lebah pengembara
Berbekal sengatan liar dia menari di bibir benang sari
Menjilati madu kenikmatan yang mulai tercecer
Lepaslah dahaga itu di sudut hangat penuh kilauan cahaya
Hilang sudah kesadaran si lebah
Dan sang mawar terkatup-katup penuh rasa bangga

Aku menemukan mawar itu di samping sunyi
Sejenak kuamati kelopaknya dalam rekahan imaji
Ia menawariku segelas anggur puisi
Dengan pesonanya aku berhasil mendaki
Langit tinggi semakin tak bertepi
Lalu
Ku pungut jasad-jasad lebah yang terbang mati
Dihempas kepalsuan cinta tak termaknai

Lihatlah beberapa lebah yang bersimpuh ironi
Demi nikmat sesaat sengatannya rela dikebiri
Sedangkan sang mawar hanya tersipu palsu menghianati
Karena akar hatinya hanya ada dalam onggokan sampah materi duniawi

Dan ketika pelangi membuka jendela alam abadi
Kugetarkan selaput perih dari lagu-lagu sakit hati
Tentang para lebah kuhembuskan sebait puisi
Agar tak ada lagi serapah terhadap cinta bilik sunyi
Karena kesumat rindu mungkin tak bisa diobati
Sampai mati

Mawar merah itu mencibirku dengan angkuh
Duri tangkai indahnya memang telah memakan banyak korban
Kelopaknya yang harum ia sandingkan dengan remeh
Memikat tiap kumbang untuk hinggap dan bersemedi
Sebelum kemudian mati tertusuk duri penuh racun
Dalam jerat kenikmatan lendir-lendir cinta
Entah sampai kapan tragedi ini dimaknai



Artikel Terkait:

0 Response to "TRAGEDI ALAM LIAR"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme